To be I can do
To be You can do
insyaallah
Correct me...!!
to be better

Kamis, 22 November 2012

Sejarah Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan


Dimasa modern ini, peran pendidikan dan ilmu pengetahuan manfaatnya makin dirasakan. Melalui pendidikan, manusia dapat memiliki ilmu pengetahuan diberbagai bidang, yang memunculkan berbagai penemuan baru yang bermanfaat, antara lain; Listrik oleh Thomas Alva Edison;  Komputer yang  berkembang dari waktu ke waktu sampai saat ini, sangat membantu manusia menyelesaikan tugasnya. terutama sejak dikembangkannya electronic digital computer sekitar tahun 1940 -1945. Tahun 1969, Neil Amstrong dengan menggunakan pesawat ruang angkasa Apollo 11, merupakan manusia pertama yang menjejakkan kaki di bulan. Saat ini,  ada Stasiun Angkasa Luar, yang me mungkinkan para astonot tinggal lebih lama, dan melakukan penelitian  bersama-sama, yang hasilnya insyaAllah bermafaat bagi manusia.

Sejarah mencatat, di abad pertengahan, saat kekhalifahan Bani Umayyah di Andalusia  (Jazirah Iberia, Spanyol), Cordoba ibukota kekhalifahan tersebut menjadi pusat peradaban dunia. Pada masa itu banyak pemuda pemuda Eropa yang belajar di perguruan tinggi disana, menyerap berbagai ilmu, dan mengembangkannya lebih lanjut. Dalam literatur Barat dikenal nama Avecina dan Averous yang sebenarnya pemikir besar Islam bernama; Ibnu Sina dan Ibnu Rusyid.
Ilmu algebra atau (Arab: aljabar) awalnya dikembangkan oleh pemikir pemikir Islam, banyak kata kata bahasa Inggeris diserap dari bahasa Arab ;  botani/nabati, telephone/talifun, star/sitar.
Bukan hal yang mustahil, ilmu perbintangan/ilmu falaq dikembangkan oleh pemikir pemikir Islam, yang membawa berkah bagi  bangsa Indonesia, dengan dibawanya Islam oleh para pedagang Islam yang berlayar dari daerah asalnya ke Samudra Pasai, Aceh. Hal ini terbukti dengan temuan prasasti berupa pemakaman Islam bertarikh abad ke 13. Padahal Columbus baru memulai pelayaran sekitar tahun 1490-an dan tahun 1492 menemukan benua Amerika, yang disangkanya negeri Hindia, sehingga menamakan penduduk setempat bangsa Indian.
Dalam bidang Ekonomi, 700 tahun sebelum Adam Smith (yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Ekonomi) menulis bukunya “The Wealth of Nations”, Abu Hamid Al Ghazali telah membahas fungsi uang. Bahkan dalam buku tersebut vol. 5, dijelaskan bahwa perekonomian yang maju ketika itu adalah perekonomian Arab yang dipimpin oleh Mahomet and his immediate successors. Lebih ironis lagi judul buku Adam Smith ternyata terjemahan dari buku karangan Abu Ubayd “Al Amwal”. Sayang sekali kontribusi Islam dalam pemikiran ekonomi seakan hilang ditelan peradaban Barat, sehingga tidak ditemukan buku buku sejarah pemikiran ekonomi Islam3.


Orang bijak mengatakan bahwa generasi muda merupakan generasi penerus, dan karena masa depan suatu bangsa terletak pada generasi muda. Tidaklah berlebihan jika dikatakan; pendidikan bagi generasi muda (anak anak), merupakan suatu human investment (investasi kemanusiaan), karena dengan menginvestasikan dana untuk pendidikan bagi generasi muda, akan diperoleh return (hasil) berupa generasi muda yang insyaAllah memiliki pendidikan dan kehidupan yang lebih baik, namun tentunya yang lebih penting; generasi muda yang lebih takwa kepada Allah swt.
Seorang pendidik mengatakan; Ibaratkan sebuah buku, anak anak itu laksana “edisi perbaikan” dari orangtuanya4, karena dengan memberikan pendidikan yang baik kepada anak anak, kehidupan anak anak tersebut akan lebih baik daripada kita sebagai orang tua.
Memperhatikan manfaat pendidikan dan ilmu pengetahuan tersebut, semua bangsa di dunia ini berlomba lomba meraih dan mengembangkannya. Alfred Nobel seorang bangsa Swedia, penemu dinamit, sejak puluhan tahun yang lalu memberikan Hadiah Nobel setiap tahun kepada para pemuncak ilmu pengetahuan di bidang masing masing, disamping Hadiah Nobel untuk perdamaian.
Pada tahun 1979 sejarah mencatat peraih Hadiah Nobel bidang Fisika adalah; Prof, DR Abdussalam,  warganegara Pakistan. Beliau umat Muslim pertama yang meraih Hadiah Nobel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar